Persaingan antara produsen mobil listrik (EV) dari Jepang dan Korea Selatan semakin memanas dalam perebutan dominasi pasar EV Asia. Korea Selatan, dengan raksasa seperti Hyundai dan Kia, telah memimpin dalam inovasi baterai, jangkauan, dan platform EV khusus. Sementara itu, Jepang, dengan Toyota dan Nissan, mulai bergerak agresif setelah awalnya berfokus pada hibrida.
Korea Selatan diuntungkan oleh ekosistem baterai yang kuat (dipelopori oleh perusahaan seperti LG Energy Solution dan SK Innovation), memungkinkan mereka menghasilkan EV dengan teknologi canggih dan waktu pengisian yang cepat. Desain futuristik dan fitur perangkat lunak yang unggul juga menarik minat konsumen muda Asia.
Jepang, meskipun mendominasi pasar mobil konvensional, menghadapi tantangan dalam transisi EV penuh. Fokus jangka panjang pada solid-state battery menjanjikan terobosan, tetapi produk EV massal mereka saat ini tertinggal dalam jangkauan dan performa dibandingkan model Korea.
Perang memperebutkan ‘Raja Jalanan Asia’ ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas mobil, tetapi juga oleh strategi insentif pajak dan kecepatan pembangunan infrastruktur pengisian daya. Pasar Asia akan menjadi medan uji coba utama untuk menentukan pemenang dalam revolusi EV.
Persaingan EV di Asia didominasi oleh Korea Selatan yang memimpin dengan teknologi baterai canggih dan platform khusus, sementara Jepang berjuang mengejar ketertinggalan EV, meskipun unggul dalam teknologi hibrida.

